5 Digital Consumer Megashifts

by inventure knowledge
361 views

The Formula: EC = DC

“After Pandemic, Every Consumer Is Digital Consumer”

Pandemi COVID-19 membawa berkah luar biasa, karena mega-bencana itu memaksa seluruh umat manusia untuk “go digital“. Itu sebabnya saya menyebut: “Pandemic is a catalyst for digital adoption.”

Ya, karena ketika kita makin terbatas ke luar rumah dan berinteraksi secara fisik, maka kita dituntut untuk bekerja, belajar, belanja, hingga beribadah secara online dengan menggunakan perangkat digital. 

Apa saja pergeseran besar (megashifts) perilaku konsumen yang bakal terjadi sebagai akibat terakselerasinya adopsi digital ini? Di Inventure kami mengkajinya dan menemukan ada 5 megashifts berikut ini.

#1. GO VIRTUAL: “Migration from space to screen”

Pandemi telah mempercepat proses migrasi konsumen dari offline (dimensi fisik: “space“) ke online (dimensi digital: “screen“).

Oleh pandemi kita dipaksa untuk bekerja secara remote dengan platform seperti Zoom atau Webex. Anak-anak juga tak bisa lagi belajar secara fisik di sekolah dan harus belajar secara online di situs seperti Ruangguru atau Khan Academy. Berbelanja juga makin banyak dilakukan via e-commerce ketika berbelanja fisik kian dihindari. 

Ketika rumah sakit kini menjadi tempat yang berisiko menularkan COVID-19, maka telemedecine menjadi solusi digital menenteramkan. Bahkan ketika beberapa bulan lalu kita tak bisa ke kampung untuk silaturahmi saat lebaran, dengan platform digital kita masih bisa melakukannya secara virtual.

Dengan adanya pandemi, makin banyak aktivitas hidup kita kini dijalani secara virtual melalui layar smartphone, laptop, atau tablet. Abad 21 adalah “abad virtual”.

#2. GO DIGIWHERE: “Deepening of digital adoption”     

Tak hanya “go virtual“, pandemi juga mendorong adopsi dan konsumsi digital yang semakin “meluas” dan “mendalam”. Kami menyebutnya fenomena “digiwhere” atau “digital everywhere“. 

Karena banyak berada di rumah, masyarakat semakin banyak menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Karena tidak bisa menonton bioskop dan konser musik maka kita kian banyak menghabiskan waktu menikmati layanan streaming seperti Netflix atau Spotify. 

Dalam hal berbelanja online, kalau dulunya kita berbelanja online secara sesekali saja (occasional) maka kini kita melakukannya secara reguler (habitual). Kalau sebelumnya kita hanya berbelanja untuk barang-barang non-esensial seperti produk elektronik, baju, atau sepatu, maka kini kita melakukannya untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari (daily needsgroceries).

Yang paling terlihat adalah penggunaan Zoom untuk melakukan rapat dan berdiskusi. Kalau sebelumnya kita tak pernah menggunakan platform remote working ini, namun para pekerja kantoran bisa menggunakannya 5-10 kali seharinya.

#3. GO CONTACTLESS: “The fall of physical touchpoints” 

Pandemi menuntut kita untuk melakukan social distancing dan sesedikit mungkin melakukan kontak fisik. Ketika tuntutan aktivitas keseharian harus tetap berjalan, maka media digital menjadi “solusi sementara”, sekaligus “solusi selamanya”. 

Dengan QR-code, maka kita bisa tetap melakukan transaksi dan pembayaran tanpa harus melakukan kontak fisik. 

Dengan robot dan otomasi berbasis AI, maka pabrik dan kantor-kantor tetap dapat beroperasi tanpa melibatkan tenaga manusia. 

Atau, dengan beragam self-service apps, maka para travellers bisa memenuhi berbagai kebutuhan travelling-nya tanpa banyak melakukan kontak fisik dengan banyak orang. 

Digital memungkinkan konsumen sesedikit mungkin melakukan kontak fisik dengan penyedia produk dan layanan. 

#4. GO OMNI: “Phygital experience is the endgame”

Anggapan umum sering mengatakan bahwa dengan adanya migrasi digital besar-besaran akibat pandemi, maka kita akan serta-merta meninggalkan dunia fisikal. 

Namun kenyataannya tidak demikian. Di dunia ini tak pernah ada perubahan yang betul-betul ekstrim. Ya, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk yang piawai beradaptasi. 

Orang menyangka bahwa dengan hadirnya platform digital seperti YouTube atau Netflix maka TV (free-to-air) akan hilang dari muka bumi. Kenyataannya tidak demikian. TV tetap eksis bahkan tumbuh walaupun tidak setinggi media digital. End equilibrium-nya, keduanya hadir dan eksis secara beriringan. 

Jadi, endgame dari revolusi digital yang kini massif terjadi bukanlah lonceng kematian bagi medium fisikal, tapi terbentuknya equilibrium baru dimana fisikal-digital bahu-membahu untuk menghasilkan pengalaman terbaik dan ternyaman bagi konsumen. 

Apapun industrinya, apakah e-commerce, online learning, entertainment, remote working, atau telemedecine, ujung-ujungnya pengalaman phygital (physicaldigital) adalah yang dicari dan diinginkan. Dengan kata lain, omni-experience will be the king. 

 #5. GO CONFIDENTIAL: “Privacy is the new urgency”

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan dengan berita bocornya 91 juta data pengguna Tokopedia. Bocornya data pengguna ini juga dialami oleh Bhinneka dan Bukalapak tahun 2019 silam. Data yang diretas meliputi nama lengkap, tanggal lahir, nomor ponsel, lokasi, hingga jenis kelamin.

Di tengah uforia belanja online yang semakin massif, beberapa kejadian ini sontak membuat tingkat kepercayaan publik pada e-commerce menjadi menurun. Kejadian ini juga membuktikan lemahnya pengawasan dan sistem keamanan privasi pengguna. 

Ke depan kasusnya tak hanya terjadi di e-commerce. Dengan meluas dan mendalamnya penggunaan platform digital oleh masyarakat mulai dari media sosial, layanan online streamingremote working, belajar online, hingga telemedicine, maka kasus peretasan akan meluas ke hampir seluruh platform digital yang sehari-hari kita gunakan. 

Singkatnya, seiring adanya fenomena “digital everywhere“, maka awareness terhadap privacy dan keamanan data pribadi pengguna pun meningkat tajam. Mereka mulai sadar bahwa data pribadi mereka sangat rawan disalahgunakan oleh pemilik platform. 

Kita tahu, di era digital “user data is the new oil“. Pemilik platform akan sejauh mungkin mengolah dan memanfaatkan data konsumen untuk mengkastemisasi dan mempersonalisasi layanan ke konsumen. Tapi itu mengandung biaya mahal di sisi konsumen berupa lenyapnya privasi. 

Oleh karena itu bisa dibaca trennya, semakin meluas dan mendalamnya adopsi digital akibat pandemi akan mendorong konsumen semakin peduli terhadap privasi dan keamanan data pribadi: “privacy is the urgency“. 

More

Leave a Comment