Sdh hampir 3 minggu saya “Working From Bali”.

Fyi, selama pandemi sdh 4 kali sy WFB dmn msg2 kunjungan rata-rata 15 hari. Tiga kunjungan sebelumnya sy lakukan via roadtrip, baru yg ke-4 ini sy berani naik pswt.

Mengelilingi destinasi demi destinasi di Bali n mengamati perilaku travellers, sy lihat terjadi MEGASHIFT pariwisata di Bali.

Mmg pergeseran ini msh bersifat ANOMALI krn arus wisman msh tertutup, namun bisa jadi kondisi ini bakal PERMANEN.

Pergeseran yg paling kasat mata adl sepinya kawasan Kuta n Legian. Kondisinya memprihatinkan layaknya kota mati. Padahal sebelum pandemi ini adl kawasan wisata teramai di Bali.

Menariknya, di tengah sepinya Kuta-Legian, kawasan Seminyak, Canggu, Berawa, hingga Kintamani justru ramai.
.
Bergesernya destinasi wisata ini tak lepas dr pergeseran preferensi travellers milenial akibat pandemi.

Tahun lalu sy memprediksi, pasca pandemi destinasi wisata akan bergeser ke arah NEWA:

+ NATURE
+ ECO
+ WELNESS
+ ADVENTURE

Destinasi wisata akan “patuh” pd RULE OF THE GAME baru yaitu:

+ HYGIENITY-SAFETY
+ Low-TOUCH
+ Less-CROWD
+ Low-MOBILITY

Kawasan Kuta-Legian mmg sdh terlalu padat n terkesan “old”. Sementara kawasan2 destinasi baru sprti di Seminyak or Canggu (kafe, resto, club, co-working space) “lebih NEWA”, lebih fresh, n lebih milenial-modern.

Pergeseran wisata ke arah Seminyak-Canggu ini jg didorong oleh munculnya tren DIGITAL NOMAD yg tak hanya digandrungi wisman tapi jg wisdom.

Semoga Bali cepat pulih.

Follow @yuswohady@inventureknowledge
www.yuswohady.com

Comments to: BALI TOURISM MEGASHIFT

Your email address will not be published. Required fields are marked *