BEST BUSINESS BOOK 2019: MY PICKS

by inventure knowledge
174 views

Bukan kebetulan kalau Best Business Book tahun ini sarat dengan buku-buku mengenai artificial intelligence (AI). Karena seperti disimpulkan Stuart Russel the AI Guru, AI adalah: “dominant technology of the future”.

Apalagi ketika 9 perusahaan paling berpengaruh sejagat (Amazon, Apple, IBM, Microsoft, Facebook, Baidu, Alibaba, Tencent) sudah memproklamirkan diri menggunakan AI sebagai senjata pamungkas untuk memenangkan persaingan dan menguasai bisnis global.

Di era tahun 2010an kita bicara bisnis tidak afdol kalau tidak membicarakan digital dengan kampiun-kampiunnya seperti Google atau Facebook. Kini, memasuki era dekade 2020an tidak sahih kita membicarakan bisnis tanpa membahas AI.

Di era 2020an and beyond AI sudah menjadi “jantung” operasi bisnis: “Embrace AI or you will die.” Di era ini AI akan menjadi “roh” model bisnis setiap organisasi baik pemerintahan, bisnis, maupun non-profit seperti tercermin dalam buku-buku terbaik pilihan saya tahun ini.

Pergantian tahun ini menandai dimasukinya dekade 2020an yang bisa disebut “the Decade of AI” dimana seluruh urat nadi ekonomi, bisnis, dan seluruh kehidupan konsumen digerakkan oleh mesin cerdas AI.

“AI is eating the world… every company will be an AI company”

Selamat Tahun Baru 2020.

#1. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power, Shoshana Zuboff


“End of history” dari gelombang besar revolusi ekonomi digital diriwayatkan dengan sangat cantik dan menawan oleh buku ini.

Kini kita mengalami transisi terbesar dalam sejarah ekonomi umat manusia dari kapitalisme industrial (industrial capitalism) abad 19-20 menuju apa yang oleh Shoshana Zuboff penulis buku ini, disebut kapitalisme surveilens (surveillance capitalism) abad 21 and beyond.

Kapitalisme telah berinkarnasi dari berbasis penguasaan modal (capital) dan buruh (labor) dengan memanfaatkan sistem produksi massal (mass production system) dan pembagian kerja (division of labor) ala Ford menuju kapitalisme berbasis penguasaan data masyarakat yang diekstraksi dan diolah menjadi data perilaku (behavior surplus) dengan menggunakan mesin cerdas berbasis AI milik perusahaan-perusahaan raksasa (surveillance giants) macam Google atau Facebook.

Baca jugaBest Business Book 2018

Mantra dari kapitalisme gaya baru ini adalah: “the death of privacy, the birth of AI machine-driven behavior forming”. Umat manusia akan memasuki era mencekam seperti tergambar dalam novel klasik Goerge Orwell, 1984.

#2. Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, David Epstein

Teori lama mengatakan bahwa untuk menjadi jenius seperti Beethoven, The Beatles, Bill Gates, atau Tiger Wood kita harus memulai dari dini, fokus di bidang yang kita geluti, dan kemudian melatihnya siang-malam terus-menerus selama bertahun-tahun. Itu sebabnya hukum “berlatih 10.000 jam” menjadi demikian populer.

Epstein menyanggah pendapat ini. Fokus dan spesialisasi sejak dini seperti yang dijalani Tiger Wood adalah perkecualian, bukan hukum yang berlaku umum. Beda dengan Tiger, Roger Federer justru gonta-ganti jenis sport yang digeluti dan lambat mengambil bidang spesialisasi tenis (late specialization).

Baca jugaBest Business Book 2017

Di era VUCA, generalis justru lebih relevan ketimbang spesialis.

Di era yang connected dan kian unpredictable, generalis (mazhab “Roger Federer”) lebih kontekstual dan lebih ampuh dari spesialis (mazhab “Tiger Wood”).

Kenapa? Karena generalis lebih multi-pengalaman, lebih holistik, lebih kreatif, lebih agile, dan lebih bisa berkoneksi dengan orang lain; kualitas yang lebih diperlukan di era VUCA.

#3. The Big Nine: How the Tech Titans and Their Thinking Machines Could Warp Humanity, Amy Webb

End game dari perebutan kekuasaan bisnis global sudah terang-benderang tersimpulkan oleh buku ini. Pemenangnya adalah 9 raksasa global: enam di AS (Google, Amazon, Apple, IBM, Microsoft, Facebook) dan tiga di Cina (Baidu, Alibaba, Tencent). Sebutlah mereka “The Big Nine”.

Mereka menguasai jagat bisnis dengan senjata pamungkas baru yaitu AI. Penulis menyebut mereka sebagai: “The new Gods of AI”.

Mereka datang menawarkan konsep “problem-free society” karena semua masalah umat manusia akan diselesaikan secara “autonomous” oleh mesin pintar AI yang mereka kuasai. Dan tentu tak ada free lunch, dari situ mereka akan mengeruk fulus triliunan dolar dengan model kapitalisme surveilens seperti dimodelkan oleh Zuboff.

Stephen Hawking telah mengingatkan, “The development of full artificial intelligence could spell THE END of the human race.”

Pertanyaannya kemudian, apa jadinya dunia ketika AI dikuasai dan dikendalikan oleh 9 raksasa teknologi di atas (dengan motif profit tentu), bukan oleh negara? Buku ini memberikan intro diskusi yang menantang.

#4. Loonshots: How to Nurture the Crazy Ideas That Win Wars, Cure Diseases, and Transform Industries, Safi Bahcall

Ide-ide besar yang mengubah dunia (dari Newton hingga Steve Jobs) umumnya adalah ide ganjil (“loonshots”) yang diabaikan karena penggagasnya dianggap gila.

Meminjam konsep “phase transition” dalam ilmu fisika, penulis menawarkan paradigma baru dalam melihat perilaku organisasi dalam menyikapi adanya ide gila yang berpotensi mengubah dunia.

Kegagalan Sony atau Nokia yang tak bisa melanjutkan terobosan inovasi radikal secara berkelanjutan dijelaskan secara meyakinkan oleh buku ini. Rupanya kuncinya bukan di budaya perusahaan (“culture”) seperti selama ini kita yakini, tapi di struktur (“structure”) bagaimana “orang-orang gila” di dalam organisasi menghasilkan ide radikal.

Buku ini memberikan clue bagaimana sebuah organisasi bisa menjadi medium bagi berkembangbiaknya ide-ide gila yang berpotensi mengubah dunia.

#5. Nine Lies About Work: A Freethinking Leader’s Guide to the Real World, Marcus Buckingham & Ashley Goodall

Budaya kerja adalah kunci sukses organisasi: budaya adalah perekat yang menyatukan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Pernyataan di atas adalah asumsi dasar yang sudah dianggap sebagai kebenaran umum oleh kalangan profesional SDM.

Celakanya menurut buku ini, kenyataannya tidak demikian. Itu adalah kebohongan belaka.

Ketika perusahaan menginginkan semua perilaku karyawannya seragam mengikuti budaya yang dibangun perusahaan, ternyata kenyataannya bukan begitu. Karyawan tak mau diseragamkan. Mereka ingin mengekspresikan individualitas dan keunikan pribadi mereka masing-masing.

Dan yang mengakomodasi diversitas individual itu adalah tim bukan budaya. Karena itu kesimpulan buku ini: “Team matter most… not culture”. Tim lebih penting ketimbang budaya perusahaan.

Dengan begitu meyakinkan buku ini mengungkap sembilan miskonsepsi (“kebohongan”) di dunia kerja, salah satunya adalah mitos keampuhan budaya kerja di atas.

Download E-book: Best Business Book 2019 

#6. Connected Strategy: Building Continuous Customer Relationships for Competitive Advantage, Nicolaj Siggelkow & Christian Terwiesch

Nike mengubah model bisinisnya dari peritel sepatu menjadi layanan “wellness system”. Caranya, dengan memasang wearables di setiap sepatu produksinya, mengambil data aktivitas konsumen dengan software berbasis AI, dan kemudian mengolahnya menjadi rekomendasi kesehatan.

Kuncinya, Nike harus bisa connected anytime, anywhere dengan setiap konsumennya. Dan dari situ ia mengumpulkan big data konsumen dan kemudian memonetisasinya menjadi layanan kebugaran. Nike berubah dari penjual sepatu menjadi konsultan.

Inilah yang disebut connected strategy dimana relasi antara perusahaan dengan konsumen berlangsung terus-menerus (continuous anytime, anywhere), friction-free, dan customized.

Ketika always-connected customer relationship ini terwujud maka keajaiban pun terjadi: customer experience meningkat 10X; cost turun 10X. Dan disrupsi pun tak terelakkan lagi.

#7. Human Compatible: Artificial Intelligence and the Problem of Control, Stuart Russell

AI adalah “dominant technology of the future”. Tujuan paripurna penerapan teknologi baru ini tak tanggung-tanggung: menciptakan “Superhuman AI” yaitu mesin yang mengatasi kemampuan manusia (singularity).

Namun pertanyaan eksistensial lalu muncul: “Apa jadinya jika tujuan itu terwujud?” Apakah manusia bakal “diperbudak” mesin?

Argumentasi Stuart Russel, skenario ini bisa dicegah jika manusia berpikir ulang tentang peran dan posisi AI sebelum saat terwujudnya Superhuman AI itu datang.

Manusia bisa memilih: Apakah akan menjadikan AI sebagai senjata pemusnah otonom atau mesin viral penyebar hoax yang merusak peradaban manusia? Atau sebaliknya, menjadikannya alat yang meningkatkan kemaslahatan umat manusia?

Punah tidaknya umat manusia akan ditentukan oleh jawaban dari dua pertanyaan tersebut.

Definitely, ini adalah buku paling penting tentang AI tahun ini

#8. Seeing Around Corners: How to Spot Inflection Points in Business Before They Happen, Rita McGrath

Disrupsi selalu datang “gradually, then suddenly”: awalnya pelan, tapi kemudian melaju cepat begitu critical mass terwujud.

Ini adalah “jebakan Batman” yang membuat perusahaan seperti Nokia, Kodak, atau Borders tak berdaya menengarai datangnya sinyal-sinyal disrupsi.

Karena itu, menurut buku ini, early warning system untuk mengendus datangnya disrupsi adalah agenda besar perusahaan saat ini.

Buku ini memberikan guidance untuk mendeteksi datangnya inflection point disrupsi dan kemudian meresponsnya dengan cerdas tak hanya survive melintasinya, tapi juga menjadikannya competitive advantages untuk memenangkan persaingan di tengah gonjang-ganjing disrupsi.

#9. Messengers: Who We Listen To, Who We Don’t, and Why, Stephen Martin & Joseph Marks

Di era yang tidak menentu dan serba ambigu saat ini, penyampai pesan (messenger) telah menjelma menjadi pesan (message) itu sendiri. Persis seperti dibilang Marshal McLuhan 55 tahun yang lalu bahwa: “the medium is the message.”

Akibatnya, seringkali kita gagal memisahkan antara ide dari sebuah pesan dengan si penyampai pesan. Inilah yang menjelaskan kenapa kini status dan relasi dengan penyampai pesan justru lebih penting dari pesannya sendiri.

Sederhananya, siapa yang mengatakan lebih penting dari apa yang dikatakannya. Buku ini menyebutnya: “the messenger effect”.

Ketika messenger lebih penting dari message, maka mengetahui karakter messenger menjadi amat penting dalam proses penyampaian pesan ke audiens.

#10. The Invisible Brand: Marketing in the Age of Automation, Big Data, and Machine Learning, William Ammerman

Marketing “as we know it” is dead! Pernyataan arogan itu bukan pertama kali diucapkan oleh pakar atau praktisi marketing.

Tapi demikianlah adanya. Marketing setiap kali “dibunuh” dan setiap kali terbunuh lalu “terlahir kembali”.

Memasuki abad ke-21 kali ini, marketing konvensional untuk kesekian kali dibunuh, dan pembunuhnya adalah AI.

Berbekal AI, kini marketers punya “tangan tersembunyi” karena untuk memengaruhi cara konsumen berfikir, berperilaku, dan mengambil keputusan.

Menurut buku ini, “pembunuhan” ini dimungkinkan oleh empat kemajuan besar teknologi: informasi yang personalized, persuasi artifisial, machine learning, dan interaksi manusia-mesin berbasis suara (seperti Alexa atau Siri).

More

Leave a Comment