fbpx

Tak lama setelah video masyarakat berebut Susu Beruang, banyak media memberikan “klarifikasi” dengan menampilkan pendapat para ahli gizi bahwa sesungguhnya Susu Beruang tak beda dengan susu yang lain.

Pertanyaannya, apakah dengan penjelasan ahli gizi tsb lalu sontak konsumen mengurungkan niatnya memburu Bear Brand, toh susu lain sama khasiat dan kandungan gizinya?

Tidak!

Itulah hebatnya BRANDING.

BRAND is PERCEPTION.
…dan BRANDING is about building PERCEPTION.

Perception is REALITY.
…tapi dengan catatan: Reality IN THE MIND of customer.
…bukan OBJECTIVE reality.

Persepsi ini dibentuk al melalui: ADVERTISING, PAST EXPERIENCEor CUSTOMER REVIEW.

Banyak persepsi (bahkan mitos) yang berkembang di masayarakat bahwa Susu Beruang adalah “susu kesehatan” yang bisa menangkal COVID-19.

Apakah betul persepsi dan mitos itu? Seperti dijelaskan para ahli gizi, tidak.

Ini mirip dengan mitos yang beredar di kalangan perokok fanatik Dji Sam Soe, bahwa rokok kretek legendaris ini bisa menjadi “obat batuk”.

Marketer membangun persepsi ini bukan dari kemarin sore, tapi belasan, puluhan, bahkan ratusan tahun.

Bear Brand misalnya, membangunnya sejak 1906, sudah lebih dari 100 tahun. Bagaimana bisa dipatahkan oleh sekali penjelasan ahli gizi.

Ditambah lagi, kasus BRAND-BUILDING Susu Beruang ini fenomena yang unik, karna pembentukan persepsi “susu penangkal COVID-19” ini bukan dibentuk oleh produsen semata..

Tapi justru oleh konsumen sendiri melalui STORY yang secara natural beredar dari satu konsumen ke konsumen lain.

Customers COCREATE brand STORY.

Jauh sblum pandemi melanda, setiap kali saya sakit, mertua selalu membelikan Susu Beruang satu karton dan memaksa saya minum tiap pagi. Kata mertua, “untuk menangkal penyakit”

Saya tak tahu dari mana dia mendapat “ilmu” khasiat Susu Beruang dan nggak berani tanya 

Tapi saya menduga, “ilmu” itu didapat dari temannya. Temannya mertua saya mendptkannya dari temannya lagi, demikian seterusnya.

Dan ketika WORD OF MOUTH itu beredar bertahun-tahun maka ia mengeras menjadi mitos yang “DIIMANI” oleh konsumen.

Kalau sudah begitu, maka mitos itu sudah berubah menjadi REALITAS.

yaitu REALITAS yang ada di benak konsumen.

Follow @yuswohady @inventureknowledge

Comments to: BRAND IS PERCEPTION

Your email address will not be published. Required fields are marked *