CORONA KILLS EVERYTHING

by inventure knowledge
69 views

COVID-19 tak hanya membunuh manusia.

COVID-19 juga membunuh PRODUK.

COVID-19 juga membunuh BISNIS dan INDUSTRI.

Bahkan COVID-19 membunuh KEBIASAAN-KEBIASAAN kita selama ini.

Berikut ini adalah 40 PRODUK, BISNIS, dan KEBIASAAN yang dibunuh oleh COVID-19. 

 

#1. Handshake & “Cipika-Cipiki”

Tradisi jabat tangan sudah ada sejak abad ke-5 sebelum Masehi di masa kerajaan Yunani kuno. Jabat tangan adalah simbol dari perdamaian, untuk menunjukkan bahwa masing-masing pihak yang berjabat tangan tidak membawa senjata untuk saling melukai atau membunuh.

Namun celaka, tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad itu bakal punah oleh adanya COVID-19. Dengan adanya social distancing dan contact-free lifestyle yang muncul karena adanya COVID-19, kita tidak lagi berjabatan tangan untuk menghindari penyebaran virus mematikan tersebut.

Tak hanya itu, tradisi berpelukan dan “cipika-cipiki” yang selama ini menjadi simbol persaudaraan dan keakraban bakal terancam punah karena kita takut tertular COVID-19.

 

#2. Consumer Confidence  

COVID-19 membuat masyarakat cemas dan takut. Takut terpapar virus, takut kehilangan nyawa, takut krisis ekonomi, takut perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut, takut kehilangan pekerjaan, dan takut jatuh miskin.

Semua ketakutan ini membuat konsumen tak yakin akan masa depan perekonomian. Mereka menjadi pesimis terhadap prospek perekonomian. Mereka pesimis terhadap ketersediaan lapangan kerja. Dan mereka pesimis karena kondisi keuangan bakal memburuk.

Consumer Confidence Index (CCI) bulan April terjun ke posisi 84.8 dari 113.8 sebulan sebelumnya. Angka ini merupakan yang terendah sejak July 2008. Di bulan Mei dan bulan-bulan berikutnya, sudah bisa ditebak angka CCI ini akan semakin terjun bebas.

COVID-19 telah membunuh consumer confidence.

 

#3. Prostitution

COVID-19 memaksa setiap orang menjaga jarak dan tidak melakukan kontak fisik. Hal ini menjadi mimpi buruk bagi dunia prostitusi yang dy-default membutuhkan aktivitas yang contact-intensive dan intimate-intensive.

Tak heran prostitusi adalah salah satu yang paling terdampak oleh adanya pandemi. Di seluruh dunia para PSK (pekerjan seks komersial) tak bisa mendapatkan income karena tak ada lagi konsumen.

We are facing a massive crisis,” kata Niki Adams dari English Collective of Prostitutes, organisasi nirlaba yang mewadahi para PSK di Inggris seperti ditulis The Guardian (13/4).

Sementara di India, seorang PSK Neva (bukan nama sebenarnya) mengatakan, “If the situation persists, there will be only one option left for me: suicide,” seperti dilaporkan DW (Deutsche Welle).

Celakanya, umumnya para pekerja seks ini tidak tercakup dalam program jaring pengaman sosial pemerintah. Sehingga di seluruh dunia kini banyak LSM yang bergerak di bidang perlindungan pekerja seks melakukan pengumpulan dana untuk membantu mereka.

 

#4. Mudik

Pandemi juga tidak memungkinkan kita mudik tahun ini. Bahkan secara resmi pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik yang efektif berlaku sejak 24 April 2020. Langkah ini dilakukan demi memutus rantai penularan COVID-19.

Beralasan, karena kerumunan di kantong-kantong mudik di kampung dikhawatirkan akan menjadi medium penularan Covid-19 karena para perantau umumnya merupakan orang yang tinggal di episentrum COVID-19.

Mengacu data mudik Kemenhub, pada musim mudik tahun 2019 lalu terdapat pergerakan 7,2 juta pemudik selama H-7 sampai H+1 lebaran. Bisa dibayangkan jika jutaan orang yang berada di zona merah itu tumplekblek di kampung. Kasus terinfeksi bakal makin menggila.

 

#5. “9-t-5” Work Hour

Dalam buku Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan, ke depan milenial “membunuh” jam kerja “9-to-5”.

Rupanya Covid-19 membunuhnya lebih cepat. Saat ini semua karyawan dipaksa untuk menjalankan “work from home” (WFH). Sehingga mereka berkesempatan melakukan “eksperimen” untuk menjalankan pola kerja flexible working hour (FWH).

Awalnya memang denial (apalagi harus menggunakan platform digital remote working seperti Zoom atau Webex), namun setelah berjalan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, maka mereka mulai terbiasa, menikmatinya, dan ketagihan. Mereka makin produktif karena lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga.

 

#6. Air Pollution

COVID-19 menjadikan langit kota-kota tersibuk di dunia semakin biru. Pandemi menjadikan pabrik-pabrik tak beroperasi dan kendaraan tak lagi hilir-mudik di jalan, maka polusi udara pun terpangkas drastis.

Kota tersibuk New York misalnya, dengan adanya pandemi lalu-lintas kendaran berkurang 35%, polusi karbon monoksida turun tajam 50%, dan polusi CO2 turun 10%, begitu juga polusi metana. Di Cina, hanya dalam rentang waktu 2 minggu setelah lockdown penggunaa energi dan emisi turun 25%, sehingga memangkas 1% total emisi karbon kumulatif di Cina.

Tak ketinggalan, pandemi juga menjadikan langit Jakarta semakin biru. “Kami mendapati bahwa konsentrasi polutan baik debu yang beterbangan (SPM/suspended particulate matter) maupun debu polutan ukuran <10 mikron (PM 10) pada pekan ini, selepas tanggal 26 Maret relatif menurun dibanding pekan sebelumnya,” kata BMKG (8/4).

Blessing in disguise, COVID-19 kills air pollution.

 

#7. Cruise Vacation

It might mark the end of the golden era: How covid-19 may sink the cruise-ship industry“, begitu bunyi judul tulisan di majalah Economist (2/5) yang begitu pas menggambarkan nasib industri kapal pesiar.

Selama ini industri kapal pesiar menikmati masa keemasan. Namun begitu akhir tahun lalu wabah menyebar, praktis industri ini mati. Recovery industri ini lebih berat karena “reputasi buruk” yang sudah terlanjur terbentuk sebagai tempat penularan COVID-19 terus membayangi benak travellers.

Industri ini akan mengalami perubahan mendasar setelah pandemi lewat: protokol kesehatan bakal diterapkan super ketat, peumpang dalam jumlah lebih kecil tidak ribuan seperti sekarang dan rute lebih pendek dan kapal pesiar akan makin banyak mempekerjakan robot untuk meminimalisir kontak fisik.

 

#8. Concert & Festival

Konser dan festival musik ternama seperti Glastonbury, Coachella, atau SXSW tak akan digelar tahun ini. Tak hanya yang besar, semua konser dan festival di seluruh dunia dibatalkan. Prediksi para analis pembatalan ini bakal terulang setahun bahkan dua tahun ke depan.

Tak terlekkan lagi, konser dan festival adalah industri yang paling cepat terdampak COVID-19 sekaligus paling lama pulih. Alasannya sederhana, karena konser/festival membutuhkan kerumunan massa dalam jumlah besar. By-default, bisnis ini “menjual kerumunan”. Karena itu self-distancing tidak dimungkinkan. Industri ini bakal betul-betul normal hanya jika vaksin penawar COVID-19 ditemukan.

Memang kini sudah muncul penggantinya yaitu virtual concert. Namun perlu diingat, teknologi virtual reality secanggih apapun tak akan mampu menggantikan pengalaman fisik.

 

#9. Hotel

Pernyataan resmi dari Kemenparekraf awal April lalu, jumlah hotel yang tutup sementara karena COVID-19 sudah mencapai 1.500 di seluruh Indonesia karena tak lagi ada tamu.

Untuk bisa bertahan hotal melakukan berbagai upaya survival mulai dari: meluncurkan paket seperti “work from hotel“, program staycation, menawarkan “hotel food delivery“, hingga jemput bola menawarkan on-demand cleaning service ke rumah-rumah.

Pemulihan sektor pariwisata membutuhkan waktu lumayan lama. Menurut World Travel & Tourism Council (WTTC) industri ini baru pulih dalam waktu 10 bulan ke depan. Sementara Tourism Economics memperkirakan lebih lama lagi yaitu hingga tahun 2022.

 

#10. Film & TV Production

Awal April lalu muncul pemberitaan luas bahwa Tom Hank terjangkit COVID-19 saat melakukan shooting film Elvis di Australia. Berita itu menjelaskan bahwa produksi film adalah aktivitas yang sangat rawan tertular COVID-19.

Film adalah salah satu industri yang paling terdampak COVID-19 hampir di semua lini: produksi, distribusi karena semua gedung bioskop tutup, hingga penyelenggaraan festival/penghargaan yang dibatalkan. Produksi film box office seperti Mission: Impossible 7, Avatar 2, atau Matrix 4. Film-film baru yang harusnya dirilis antara Maret hingga November pun ditunda. Akibatnya industri ini mengalami kerugian hingga milyaran dolar.

Industri film Mandarin misalnya, bulan maret lalu mengalami kerugian sekitar $2 miliar karena film-flim tidak jadi tayang di tahun baru Cina. Di bulan yang sama Hollywood tekor sekitar $5 miliar.

Karena pulihnya bioskop bakal lama, maka industri ini semakin mengandalkan distribusi secara digital melalui layanan streaming.

 

Ingin tahu pembahasan lengkapnya?

Join The Webinar

More

Leave a Comment