fbpx

Kejadian ini terus saja berulang: warisan budaya asli kita diklaim oleh Malaysia. Kini dilakukan oleh Adidas. Walaupun kemudian ia sudah mengoreksi dan minta maaf.

Beberpa minuggu mggu lalu, Miss World Malaysia mengklaim bahwa batik berasal dari Malaysia.

Tak hanya itu, rentetan klaim Malaysia ini begitu panjang mulai dr: reog Ponorogo, angklung, tari Pendet, rendang, hingga lagu Rasa Sayange.

Apa urgensi yang perlu kita bangkitkan dengan adanya peristiwa ini?

#1. PERCEPTION IS KEY
Dalam marketing “perception is more important than reality

Memang realitasnya Batik or Wayang Kulit adalah budaya asli Indonesia. Tapi klo kita tidak pernah mempromosikannya ke dunia internasional maka mereka tak akan tahu.

Sebaliknya, Malaysia tak punya warisan budaya tsb, tapi mengklaim dan mempromosikannya ke masyarakat internasional, maka tahunya warisan budaya itu asalnya dari Malaysia 

Ketika Jepang begitu gencar mempromosikan Kimono sebagai pakaian asli Jepang dan brand-nya sudah terbentuk, maka tak satupun negara yang bisa mengklaim.

So, promotion, marketing, dan branding is key.

#2BIG QUESTION: OUR SENSE OF OWNERSHIP
Ketika, Wayang Kulit diklaim oleh Malaysia, kita marah besar.

Tapi coba kita refleksi sedikit dengan menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita sudah cukup merawat, melestarikan, dan mengaktualisasikan wayang kulit?

Di negeri ini pertunjukan wayang kulit kian punah. Dulu waktu kecil setiap ada kitanan nanggapnya wayang kulit. Kini tradisi itu hilang 

Karna tak nguri-uri, maka jangan salahkan siapapun kalau budaya adiluhung ini akhirnya menguap.

#3. SAVING OWNERSHIP LEGALLY
Ketika klaim ini terus berulang maka solusi pamungkasnya adalah di ranah hukum. Kita harus melindungi kepemilikan kita atas warisan budaya tersebut secara legal-formal.

Kepemilikan warisan budaya adalah bagian dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bangsa Indonesia atas warisan budaya dimaksud. 

Karna itu kita harus mulai serius mengamankan kepemilikan itu baik di tingkat nasional melalui UU n di tingkat internasional, misalnya melalui lembaga multinasional sprti UNESCO.

Follow  @yuswohady
Follow  @inventureknowledge

Comments to: LAGI, LAGI, LAGI… KLAIM MALAYSIA

Your email address will not be published. Required fields are marked *