1. IDEA

Media Industry Outlook 2021

Pandemi tidak hanya merubah perilaku konsumen dalam hal spending saja namun juga akses terhadap media. Terlebih disaat aktivitas di luar rumah menjadi semakin terbatas maka penggunaan media digital akan semakin massif dikalangan konsumen. Konsumen mulai meninggalkan medium hiburan berbentuk fisik dan beralih ke layanan digital berbasis streaming seperti Netflix, Spotify, Disney+, hingga HBO. Alhasil untuk menghadapi situasi krisis seperti saat ini maka penting bagi brand untuk tetap “eksis” di semua channel konsumen. Karena mayoritas waktu konsumen berada di rumah sehingga in-home entertainment menjadi lebih diminati.

Kami di  Inventure melakukan analisis tiga faktor kunci yang akan memengaruhi industri Media di tahun 2021. Tiga faktor itu adalah faktor perubahan lingkungan makro (Changes), pergeseran perilaku konsumen (Customer), dan gerak pelaku industri (Competition). Dinamika ketiga faktor perubahan itu pada gilirannya akan memengaruhi carut-marut bisnis Media di tahun 2021.

Untuk menyederhanakan analisis, kami menggambarkannya dalam bentuk tiga lapis lingkaran seperti terlihat pada bagan. Lingkaran luar adalah elemen Changes. Lingkaran tengah adalah elemen Consumer. Dan lingkaran dalam adalah elemen Competition.

#1. Outer-Circle: Changes

Perubahan di tingkat makro meliputi perubahan ekonomi, politik, teknologi, regulasi dan kebijakan pemerintah, hingga perubahan sosial-budaya di masyarakat.

Polarized Society

Polarisasi masyarakat akibat politik semakin jamak ditemui, baik di global maupun di Indonesia. Di Amerika dan juga Indonesia polarisasi terjadi sebagai imbas persaingan politik beberapa tahun terakhir, yang parahnya juga diikuti dengan polarisasi media yang tidak netral. Salah satu dampak negatifnya adalah sebagian masyarakat hanya mau mengkonsumsi atau mempercayai informasi yang mendukung pilihan politiknya, tanpa berusaha mencari keberimbangan.

Non-Independent Media

Pergulatan politik di berbagai negara di dunia, memunculkan fenomena media yang tidak netral dan independen. Pun di Indonesia, dimana banyak jaringan media besar yang dimiliki oleh politisi sehingga mempengaruhi pemberitaan yang bias mendukung afiliasi politik tertentu. Hal ini yang membuat sebagian masyarakat kian terpolarisasi.

Streaming Services Boom

Seiring dengan meningkatnya aktivitas di rumah saat pandemi, konsumen memilih menikmati hiburan home-entertainment berbasis digital. Layanan konten streaming seperti Netflix, Viu hingga Disney+ mengalami lonjakan pengguna yang luar biasa. Dengan paket berlangganan yang terjangkau dan kompetitif, layanan streaming dengan cepat memikat konsumen yang ingin mencari opsi hiburan yang lebih beragam.

#2. Mid-Circle: Customer

Perubahan konsumen mencakup perubahan kebutuhan, preferensi, prioritas, hingga kebiasaan dan gaya hidup

Multi-screen Lifestyle

Dengan mobilitas yang tinggi, konsumen khususnya generasi milenial memilih mengkonsumsi konten yang bisa diakses dari berbagai device (multi-screen). Konsumen juga semakin multitasking dengan menggunakan beberapa gadget dalam waktu bersamaan untuk menikmati hiburan. Misalnya menonton Netflix di smart tv sambil membaca berita di smartphone dalam satu waktu.

Digital Maturity

Pandemi COVID-19 mendorong konsumen segera beradaptasi dengan digital. Konsumen semakin mature dalam menyikapi perkembangan digital. Begitu juga dalam hal mengkonsumsi media, dimana konsumen semakin memilih media yang bersifat digital yang sifatnya real-time dan on-demand.

Stay @ Home Lifestyle

Pandemi COVID-19 membuat konsumen lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk menghindari penularan Covid-19. Hal ini berpengaruh pada konsumsi media yang lebih banyak dilakukan dengan menikmati hiburan berbasis digital di rumah atau home entertainment. Karenanya TV menjadi kembali penting untuk mengakses layanan-layanan streaming yang sedang digemari.

#3. Inner-Circle: Competition

Perubahan kompetisi memotret gerak para pemain di industri akibat pandemi yang pada gilirannya akan membentuk rule of the game baru dan mengubah peta persaingan.

Instant Media

Semakin luasnya medium informasi dan berita di dunia digital bukan hanya mempermudah masyarakat untuk mendapatkan informasi, namun bagi perusahaan media juga menjadi ladang empuk untuk menghasilkan berita-berita instan. Hal ini terlihat ketika banyak media-media besar saat ini mulai sering mengutip informasi/berita dari sosial media atau akun pribadi para public figure untuk dijadikan artikel berita.

Clickbait-ism

Jurnalisme yang berorientasi pada klik dianggap telah melahirkan fenomena jurnalisme sensasional, dan menurut beberapa pihak berkonsekuensi negatif terhadap kualitas jurnalisme yang berkembang dewasa ini. Dalam risetnya pada 2018, Edelman mengungkap clickbait merupakan salah satu aspek yang merusak kepercayaan publik terhadap media sosial.

Go Subscription

Dengan semakin masifnya penetrasi digital khususnya setelah pandemi, membuat model bisnis media mengalami pergeseran. Kian banyaknya media online membuat kue iklan semakin mengecil, sehingga perlu alternatif model bisnis yang sustain. Sistem berlangganan atau subscription menjadi alternatif bagi media untuk bertahan di tengah disrupsi dan pandemi. Kini banyak media-media online yang menawarkan paket berlangganan dengan model bundling yang terjangkau dan mudah diakses.

Comments to: Media Industry Outlook 2021

Your email address will not be published. Required fields are marked *