Wabah COVID-19 akan mendorong kota-kota basar (mega city) untuk menjadi “localized”. Maksudnya, di dalam kota yang besar tersebut terdapat “sub-kota” (atau “kota di dalam kota”) yang mandiri.

Tujuannya adalah segala kebutuhan warga kota, mulai dari berbelanja, ke rumah sakit, ke kantor pemerintah, atau berolahraga, bisa dilakukan di dalam sub-kota (intra sub-city) nggak perlu keluar (inter sub-city). Dengan begitu mobilitas warga kota akan lebih terlokalisir dan dampak penularan virus bisa lebih dikendalikan. Di Paris konsep ini diterjemahkan dengan konsep “15-minute city”, sementara di Melbourne disebut “20-minute city”.

Photo by Gervyn Louis on Unsplash

Dengan konsep ini semua kebutuhan warga kota mulai dari berbelanja, ke bank, hingga ke tempat jogging, bisa ditempuh dalam waktu 15 atau 20 menit dengan jalan kaki atau menggunakan sepeda.

Konsep localized city ini sekaligus akan memberikan peranan lebih besar kepada micromobility (cycling dan pedestrian). Sebabnya, angkutan massal seperti MRT yang awalnya menjadi pilihan utama moda transportasi kota karena tidak polutif, kini memiliki kelemahan pelik karena kerumunannya bisa menjadi sumber penularan wabah.

Artinya, prioritas pengaturan mobilitas kota bergeser dari kepentingan lingkungan (tidak polusi) bergeser ke ketahanan kota dalam menangkal virus.

Comments to: Megashifts #14: More Localized City

Your email address will not be published. Required fields are marked *