Saat lockdown dan pembatasan sosial, pemkot kota-kota di dunia New York, London, Budapest, hingga Bogota mendorong warganya untuk menggunakan skuter, sepeda, atau berjalan kaki sebagai solusi sementara untuk memfasilitasi kepentingan social distancing.

Namun seperti telah mereka akui, solusi sementara itu bakal menjadi solusi selamanya. Oleh sebab itu micromobility (skuter, sepeda, skateboard, dll.), moda transportasi yang selama ini dilirik sebelah mata karena moda transportasi didominasi oleh kendaraan pribadi dan angkutan massal, bakal menemukan ruang geraknya.

Photo by Marat Mazitov on Unsplash

Konsep “slow street” yaitu penggunaan jalan untuk moda transportasi micromobility seperti sepeda atau skuter dengan kecepatan di bawah 25 km/jam kian populer di seluruh dunia.

Berbagai kota besar di dunia mulai merespons tren ini dengan menyediakan ruang yang lebih luas kepada jalur-jalur sepeda dan pedestrian. Micromobility dinilai sebagai moda yang cocok di tengah pandemi karena aman, ramah lingkungan dan ramah social distancing.

Tren micromobility ini nantinya juga diikuti dengan kecenderungan kota pasca pandemi yang kian “melokal”. Artinya, kota akan terdiri dari sekumpulan kawasan-kawasan sub-kota yang mandiri, dimana aktivitas dan mobilitas masyarakat akan terlokalisir di masing-masing sub-kota tersebut.

Artinya moda transportasi jarak pendek seperti micromobility masih bisa memenuhi kebutuhan mobilitas jarak pendek dan lokal di sub-sub kota tersebut.

Comments to: Megashifts #16: The Rise of Cycling & Pedestrian

Your email address will not be published. Required fields are marked *