Selama pandemi minat warga kota untuk berkebun dan bertanam meningkat pesat. Alasan yang paling simpel adalah membunuh kebosanan dan stres karena sudah 2-3 bulan ngendon di rumah. Formatnya bisa berupa hidroponik, vertical garden, kitchen garden, atau memanfaatkan sejengkal lahan kosong di rumah.

Sumber: Media Indonesia

Tapi rupanya tak hanya karena itu, ada alasan-alasan substansial yang membuat tren urban gardening/farming ini akan permanen pasca pandemi.

Pertama karena alasan food security. Artinya masyarakat kota sekarang semakin peduli keamanan makanan-makanan yang mereka konsumsi karena bahaya tertular COVID-19 terus mengintai. Karena itu mereka misalnya memilih makan sayuran dari kebun sendiri.

Kedua untuk tujuan penghijauan kota. Dengan banyaknya warga kota yang menanam sayur, bunga, dan tanaman buah, maka hal ini akan bisa mengurangi polusi dan pemanasan global.

Ketiga alasan self-suficiency, artinya kota harus bisa memenuhi kebutuhan makanannya sendiri di tengah kondisi darurat seperti pandemi. Perlu diingat, pada saat lockdown, banyak kota mengalami kesulitan makanan karena pasoknya banyak tergantung kepada daerah lain.

Di masa-masa mendatang, saat ada pandemik yang datang, maka urban gardening/farming akan menjadi solusi bagi food self-suficiency saat kota di-lockdown.

Comments to: Megashifts #17: Urban Farming & Gardening

Your email address will not be published. Required fields are marked *