Dalam tulisannya di The New York Times (14/5), Dr. Marty Makary, profesor di Johns Hopkins School of Public Health, mengatakan bahwa berada di ruang terbuka (outdoor) dengan menerapkan social distancing memiliki risiko yang lebih kecil tertular COVID-19 ketimbang berada di ruang tertutup (indoor).

Temuan ini membawa implikasi yang luas bagi desain dan perencanaan kota. Artinya kota harus menyediakan banyak ruang terbuka dan aktivitas-aktivitas warga sejauh mungkin diarahkan ke ruang terbuka publik.

Source: Suara.com

Yang pertama tentu jalan, trotoar dan jalur pejalan kaki, jalur sepeda, parkir umum, dan taman-taman kota nan hijau. Di era pandemi keberadaan taman-taman kota hijau menjadi krusial tak hanya sebagai jantung kota tapi juga tempat warga melepaskan kejenuhan karena terlalu banyak di rumah atau di kantor.

Aktivitas olahraga dan seni seperti senam, jogging, yoga, nonton bioskop, pertunjukkan teater terbuka, bahkan konser musik skala kecil bisa dilakukan di ruang-ruang terbuka publik seperti plasa atau taman kota. Tentu saja dengan menerapkan prinsip social distancing.

Tak hanya itu, aktivitas bisnis dan perdagangan juga bisa dilakukan di tempat-tempat terbuka publik. Misalnya pasar, ritel terbuka (outdoor retail)  seperti jualan buah dan sayur, restoran dan kafe, bahkan barbershop.

Di era pandemi peran ruang-ruang terbuka publik akan sangat krusial bagi sebuah kota. Dalam jangka pendek ia akan menjadi faktor kunci recovery. Dalam jangka panjang setelah pandemi lewat ia akan menjadi “perekat” kehidupan sosial seluruh warga kota.

Comments to: Megashifts #18: Open Public Space Winback

Your email address will not be published. Required fields are marked *