Pandemi adalah “bencana kota”. Tempat yang paling terdampak adalah kota: Wuhan, New York, London, Milan, Paris, Jakarta, Surabaya. Kota menjadi episentrum penularan virus, “a death trap”, karena kepadatannya (density) dimana kontak dan interaksi antar orang berlangsung massif. By-nature, pandemi adalah anti-urban. Hidup di kota adalah antitesis social distancing.

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Pasca COVID-19 kota akan berbeda secara fundamental dibanding sebelum pandemi meradang.

Kota menjadi lebih tidak padat (de-densification) karena masyarakat semakin mengarah ke sub-urban, bahkan rural. Thanks to WFH trends. Orang akan cenderung tinggal di pinggiran karena dengan remote working mereka tetap produktif walaupun tidak berada di kantor di pusat-pusat kota.

Format jalan-jalan kota akan berubah dimana jalan akan dibagi secara lebih seimbang dengan memberikan ruang yang lebih besar kepada skuter listrik, biker dan pejalan kaki yang lebih ramah lingkungan. Angkutan massal perkotaan (bussway, MRT, LRT, commuter line, dll.) tidak lagi semenarik dulu karena bisa menjadi sumber penularan wabah.

Ruang-ruang terbuka publik yang hijau akan semakin banyak karena memungkinkan social distancing dan bisa menjadi medium untuk melepas kepenatan warga kota di tengah hijau taman (“green time”). Begitupun pasar-pasar akan semakin terbuka untuk menghindari episentrum penularan virus.

Kota juga semakin didorong melakukan digitalisasi. Perwujudan digital city/smart city akan terakselerasi agar interaksi fisik, antrian, dan gerombolan warga bisa diminimalisir. Begitupun konsep cashless city kian mendesak karena uang kertas/koin merupakan sumber penularan COVID-19 yang mengkhawatirkan.

Comments to: Megashifts #7: The End of City As We Know It

Your email address will not be published. Required fields are marked *