Ketahanan pangan termasuk salah satu topik yang dianggap penting oleh pemerintah terutama di kondisi resesi. Hal ini dikarenakan rantai pasok global yang terdisrupsi karena adanya pembatasan akses antarnegara. Mau tidak mau rumah tangga harus berdaya dalam hal pangan. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh individu maupun rumah tangga untuk mengatasi ketahanan pangan?

Kami di  Inventure melakukan analisis tiga faktor kunci yang akan memengaruhi bisnis industri agrikultur di tahun 2021. Tiga faktor itu adalah faktor perubahan lingkungan makro (Changes), pergeseran perilaku konsumen (Customer), dan gerak pelaku industri (Competition). Dinamika ketiga faktor perubahan itu pada gilirannya akan memengaruhi carut-marut bisnis industri agrikultur di tahun 2021.

Untuk menyederhanakan analisis, kami menggambarkannya dalam bentuk tiga lapis lingkaran seperti terlihat pada bagan. Lingkaran luar adalah elemen Changes. Lingkaran tengah adalah elemen Consumer. Dan lingkaran dalam adalah elemen Competition.

Kami tak akan menjelaskan keseluruhan elemen tersebut karena begitu banyak, namun akan kami pilih elemen-elemen perubahan yang krusial.

#1. Outer-Circle: Changes

Perubahan di tingkat makro meliputi perubahan ekonomi, politik, teknologi, regulasi dan kebijakan pemerintah, hingga perubahan sosial-budaya di masyarakat.

Global + National Recession

Pandemi COVID-19 telah memukul perekonomian seluruh negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Beberapa negara termasuk Indonesia telah mengonfirmasi bahwa ancaman resei tidak terelakan. Dampaknya, yaitu, konsumen mulai mengurangi pengeluaran.

Global Agriculture Supply-Chain Disruption

Kasus positif COVID-19 yang terkonfirmasi secara global saat ini masih belum menunjukkan titik terang. Implikasinya sejumlah negara akan secara ketat menerapkan pembatasan akses tidak hanya untuk turis tetapi juga bahan pangan. Alhasil produk pertanian yang tidak terdistribusi pada akhirnya akan mengendap di gudang, dan lama kelamaan akan busuk dan berujung pada sampah makanan yang meningkat.

Stock-Scarcity & Rising Price

Dampak dari adanya pembatasan akses yaitu terjadinya kekacauan rantai pasok global dan nasional. Arus keluar masuk barang menjadi terhambat karena tidak ada pengantaran. Dampaknya yaitu terjadi kelangkaan barang yang membuat harga bahan sembako menjadi tinggi. Dampak terparahnya bisa menimbulkan gesekan sosial.

#2. Mid-Circle: Customer

Perubahan konsumen mencakup perubahan kebutuhan, preferensi, prioritas, hingga kebiasaan dan gaya hidup.

Plant at Home

Berkebun menjadi salah satu alternatif kegiatan untuk mengisi waktu luang. Selain sebagai kegiatan yang mengalihkan rasa penat, berkebun di rumah juga menjadi solusi pangan bagi rumah tangga untuk menghadapi pandemi yang berkepanjangan dan sebagai bentuk pencegahan sebelum terjadi kelangkaan bahan pangan

More Local Preference

Pandemi adalah momen bagi produk pertanian dalam negeri untuk mengambil hati masyarakat Indonesia. Jalur ekspor-impor yang terdisrupsi akibat adanya pembatasan akses akan berpengaruh pada stok barang lokal di sejumlah toko ritel dan modern. Selain itu, kesadaran konsumen Indonesia untuk mengonsumsi produk lokal juga didasari karena adanya sentimen terhadap keamanan produk luar negeri.

Food Security Awareness

Selain sebagai momen untuk menaikkan level produk pertanian dalam negeri, pandemi juga menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap ketahanan pangan. Salah satunya yaitu dimulai dengan menanam bahan pangan di rumah seperti misalnya menggunakan media tanam hidroponik.

#3. Inner-Circle: Competition

Perubahan kompetisi memotret grak para pemain di industri akibat pandemi yang pada gilirannya akan membentuk rule of the game baru dan mengubah peta persaingan.

Modernization of Food Chain

Proses distribusi produk pertanian mulai dari petani hingga sampai ke konsumen merupakan rangkaian yang sangat panjang. Modernisasi rantai distribusi dengan bantuan teknologi digital sangat penting dilakukan oleh industri pertanian. Hal ini dikarenakan ketika rantai distribusi semakin panjang keamanan produk menjadi dipertanyakan. Potensi kontaminasi bahan pangan terhadap penyebaran virus COVID-19 sangat besar.

Data Reliant

Pandemi menjadi pijakan bagi masa depan yang cerah bagi bisnis startup di bidang pertanian. Dengan dukungan dari teknologi digital proses menanam mulai dari bibit hingga siap panen dapat terdokumentasi dalam bentuk data sehingga kedepannya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian yang produktif.

Data-Driven Food Bank Setiap tahap pertumbuhan akan terekam dengan bantuan teknologi dan akan terdokumentasi dalam bantuan data. Fungsi data disini adalah sebagai aset berharga yang dapat diolah untuk menghasilkan produk pertanian yang produktif dan berkualitas tinggi.

Comments to: Peluang dan Tantangan Bisnis Agrikultur Post-Pandemi

Your email address will not be published. Required fields are marked *