Pandemi COVID-19 mendorong akselerasi digital, mempercepat perpindahan konsumen dari offline ke online. Dampaknya layanan internet dan digital menjadi kebutuhan pokok konsumen. Terlebih ketika gaya hidup stay @ home semakin kian populer selama pandemi. Oleh karenanya, semakin berkembangnya digital dan munculnya pemain-pemain yang memberikan layanan digital, perusahaan layanan telekomunikasi harus mampu bertransformasi menjadi digital-company. Lantas bagaimana kesiapan infrastruktur yang perlu dipersiapkan untuk menyambut era baru pasca pandemi dimana Di-Co akan semakin mature dan memegang peranan penting bagi konsumen?

Kami di  Inventure melakukan analisis tiga faktor kunci yang akan memengaruhi bisnis industri telekomunikasi di tahun 2021. Tiga faktor itu adalah faktor perubahan lingkungan makro (Changes), pergeseran perilaku konsumen (Customer), dan gerak pelaku industri (Competition). Dinamika ketiga faktor perubahan itu pada gilirannya akan memengaruhi carut-marut bisnis industri layanan telekomunikasi di tahun 2021.

Untuk menyederhanakan analisis, kami menggambarkannya dalam bentuk tiga lapis lingkaran seperti terlihat pada bagan. Lingkaran luar adalah elemen Changes. Lingkaran tengah adalah elemen Consumer. Dan lingkaran dalam adalah elemen Competition.

Kami tak akan menjelaskan keseluruhan elemen tersebut karena begitu banyak, namun akan kami pilih elemen-elemen perubahan yang krusial.

#1. Outer-Circle: Changes

Perubahan di tingkat makro meliputi perubahan ekonomi, politik, teknologi, regulasi dan kebijakan pemerintah, hingga perubahan sosial-budaya di masyarakat.

5G Network

Perkembangan teknologi internet 5G yang digadang-gadangkan sebagai masa depan era digitalisasi, membuat penetrasi dan pengembangan inovasi di sektor digital payment kian massif. Meskipun Indonesia saat ini masih berunding untuk memilih negara mana yang akan menjadi provider adopsi teknologi 5G Indonesia, hal ini akan menjadi satu loncatan besar dunia digital dan teknologi di Indonesia.

Cyber Security Threat

Di sisi lain perkembangan teknologi dan digitalisasi menghadirkan ancaman baru yaitu cybersecurity, dimana keamanan data pribadi dan transaksi para konsumen harus dilindungi dengan ketat. Para pemilik usaha & provider digital payment di Indonesia harus mulai mempersiapkan sistem keamaanan yang lebih canggih seiring dengan perkembangan teknologi yang kian pesat.

Accelerated Digital Economy

Akselerasi ekonomi digital juga menjadi penggerak perkembangan pangsa pasar digital payment di Indonesia, dimana masyarakat Indonesia sudah sangat awam dengan teknologi dan internet. Maka hal ini menjadi peluang bagi bisnis di Indonesia untk menghadirkan layanan pembayaran digital untuk menyongsong digital ekonomi yangberkembang di masa pandemi COVID-19.

#2. Mid-Circle: Customer

Perubahan konsumen mencakup perubahan kebutuhan, preferensi, prioritas, hingga kebiasaan dan gaya hidup.

On-Demand Subscription Model

Dengan banyaknya produk dan pilihan layanan yang ada di internet, hal ini juga bisa men-trigger konsumen untuk bertransaksi menggunakan digital payment. Model bisnis yang saat ini banyak dikonsumsi pengguna internet ialah on-demand subscription model, ini merupakan bentuk layanan yang bisa dibeli/sewa oleh konsumen sesuai dengan kustomisasi masing-masing pengguna dengan sistem berlangganan. Sebagai contoh Youtube, Spotify, Netflix, Google One, dan aplikasi lainnya yang bertujuan untuk membantu mobilitas kita sehari-hari.

Digital Maturity

Pandemi COVID-19 mendorong konsumen segera beradaptasi dengan digital. Konsumen semakin mature dalam menyikapi perkembangan digital. Begitu juga dalam hal mengkonsumsi media, dimana konsumen semakin memilih media yang bersifat digital yang sifatnya real-time dan on-demand.

Streaming Society

Seiring aktivitas stay @ home selama pandemi, kebutuhan akan layanan streaming semakin meningkat. Layanan seperti Netflix, Iflix, hingga pemain baru seperti Disney+ diserbu konsumen yang haus akan hiburan.

#3. Inner-Circle: Competition

Perubahan kompetisi memotret grak para pemain di industri akibat pandemi yang pada gilirannya akan membentuk rule of the game baru dan mengubah peta persaingan.

Towards Di-Co

Semakin berkembangnya digital dan munculnya pemain-pemain yang meberikan layanan digital, perusahana telekomunikasi harus bertransformasi menjadi digital company (Di-Co), shifting dari hanya “jualan” network dan data. Transformasi Di-Co fokusnya pada gaya hidup digital dan ekosistem digital yang semua disesuaikan dengan kebutuhan pelanggannya.

Rise of Fixed Broadband

Aktivitas stay @ home selama pandemi membuat lonjakan pengguna internet broadband yang cukup signifikan. Pembatasan social membuat hampir semua aktivitias seperti bekerja, sekolah, hingga menikmati hiburan dilakukan di rumah, yang tentunya membutuhkan koneksi internet yang kencang dan stabil. Karenanya layanan internet broadband seperti Indihome, FirstMedia, Biznet dan sebagainya semakin diminati konsumen.

OTT Threat

Layanan video streaming Youtube, Netflix, dan Iflix atau kerap disebut dengan layanan over-the-top (OTT), yakni layanan dengan konten berupa data, informasi, atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet semakin marak. Kondisi ini tentu berdampak pada sektor telekomunikasi, sehingga OTT kerap dianggap sebagai ancaman. Tahap terpenting bagi bisnis OTT dan sektor telekomunikasi adalah mutual benefit. Bagaimana mereka bisa berkolaborasi bisa dalam bentuk revenue sharing atau skema business to business (B2B) misalnya dengan pembelian bandwidth/sewa server.

Comments to: Peluang dan Tantangan Bisnis Industri Telekomunikasi 2021

Your email address will not be published. Required fields are marked *