Reimagining Tourism After Pandemic: The Boom of Local Destination

by inventure knowledge
131 views

Industri pariwisata adalah industri yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19. Tempat-tempat wisata harus ditutup dalam upaya mencegah penyebaran virus. Jadwal penerbangan terpaksa berhenti beroperasi dan hotel-hotel kehilangan okupansi. Dampaknya, lay-off atau PHK besar-besaran tak terelakkan.

Situasi ini sangat berkebalikan dengan situasi di akhir tahun 2019. Industri pariwisata sangat berjaya di era leisure economy bahkan bisnis yang sukses adalah bisnis yang memberikan leisure experience. Bahkan Indonesia sempat memperoleh penghargaa ITTA (Indonesia Travel dan Tourism Awards) yang merupakan ajang penghargaan tertinggi untuk sektor pariwisata. Sementara itu, dari sisi pendapatan negara di sepanjang 2019, sektor pariwisata bisa menyumbang devisa sebesar 280 trilun. Namun, dengan adanya pandemi situasi berubah ekstrim. Sektor pariwisata justru yang paling terpuruk.

Penyebab jatuhnya industri pariwisata yang paling utama disebabkan oleh pembatasan sosial yang terjadi secara global. Terlebih epicentrum virus pertama kali berada di China yang merupakan segmen wisatawan mancanegara paling besar. Respon pemerintah dalam menangani pandemi di Indonesia turut berpengaruh terhadap sentiment global. Berita terbaru, sebanyak 59 negara menutup akses untuk kunjungan warga Indonesia. Dengan demikian, sulit mengharapkan pendapatan negara dari wisatawan mancanegara untuk segera pulih setidaknya sampai satu tahun pasca vaksin diproduksi massal.

Namun, di balik krisis yang harus dihadapi. Pandemi memberikan ruang untuk bangkitnya ekonomi lokal. Pandemi COVID-19 menjadi antitesis globalisasi sehingga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi ekonomi dalam negeri untuk menguasai pasar. Termasuk dalam sektor pariwisata lokal.

Pandemi COVID-19 akan mendorong minat masyarakat untuk berwisata lokal.

Selain preferensi yang berubah ke arah lokal, perilaku wisatawan pun ikut berubah. Saat vaksin diproduksi dan akhirnya bisa diproduksi serta terdistribusi secara massal, Indonesia dan seluruh dunia akan memasuki era dunia Next Normal dimana perilaku konsumen telah berubah ekstrim. Salah satu yang paling terlihat terkait perilaku berwisata yaitu adaptasi CHSE (Cleanliness-Health-Safety-Environment) meningkat. Artinya, para pemain di sektor ini harus segera beradaptasi untuk menghadirkan experience berwisata yang aman dan bersih. Termasuk, wisata padat kunjungan akan mulai dihindari karena wisatawan menghindari keramaian. Sebagai gantinya, wisatawan-wisatawan yang private seperti wisata meditasi di Bali akan semakin booming.

Bagaimana wajah baru pariwisata di era next ormal dan apa saja panduan bagi para pemain di industri ini bisa siap menghadapi era baru?

Kami di Inventure mencoba mengkaji dinamika lanskap bisnis Pariwisata dengan melihat perubahan-perubahan makro-industri (Changes), peta kompetisi (Competition) dan perubahan perilaku konsumen (Customer) yang memengaruhi bisnis pariwisata di era next normal. Berikut ini ringkasannya.

I. Change Drivers

Dari sisi kondisi makro-industri, tantangan terberat yang dihadapi oleh industri pariwisata yaitu kasus COVID-19 di level global yang masih terus meningkat. Beberapa negara bahkan sedang berjuang menghadapi gelombang kedua sementara itu di Indonesia saat ini perkembangan kasus masih eksponensial dan belum mengalami kurva landai.  Dampaknya orang menjadi semakin khawatir keluar rumah termasuk akan menunda aktivitas berwisata.

COVID-19 Growth & Incidence

Pandemi COVID-19 menyebabkan duo krisis yaitu ekonomi dan kesehatan. Pemulihan ekonomi akan sulit dilakukan apabila krisis kesehatan belum sanggup diselesaikan. Sementara itu kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di skala global terus meningkat. Implikasinya negara-negara akan semakin membatasi jalur transportasi. Di skala nasional, Indonesia harus menghadapi tantangan berat yaitu blunder pemerintah dalam penanganan COVID-19 yang berakibat 59 negara menutup akses untuk kunjungan warga Indonesia.

Global/Domestic Recession

Krisis ekonomi dampak dari COVID-19 membuat ekonomi negara berjatuhan. Baik negara maju dan berkembang mulai melaporkan negara mereka mengalami resesi. Berita terbaru, New Zealand resesi meskipun pemerintah disana lebih sigap sudah menutup akses saat kasus positif baru 75 orang dan sudah mulai melonggarkan akses sejak Mei lalu. Data prediksi dari IMF hanya China yang mampu mencetak ekonomi positif sepajang tahun 2020 sebesar 1%. Artinya, krisis yang dihadapi oleh pemain di bisnis pariwisata tidak hanya dialami di dalam negeri saja tetapi juga global. Singapura misalnya, salah satu penyebab resesi yaitu kunjungan wisatawa yang menurun drastis dan dengan pembatasan akses, Singapura kehilangan market besar mereka yaitu Indonesia.

Vaccine Production & Distribution

Indonesia dan seluruh negara global akan memasuki era baru next normal di saat vaksin sudah diproduks dan terdistribusi massal. Sampai distribusi vaksin merata, ekonomi akan sangat bergantung pada pendapatan dalam negeri. Termasuk dalam hal pariwisata, masyarakat masih khawatir berpergian jauh sehingga destinasi-destinasi wisata lokal yang jaraknya pendek dan mungkin bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi akan menjadi primadona.

 

II. Competitive Move

Shrink of Senior Travelers

Virus COVID-19 lebih rentan terhadap lansia. Hal ini dikarenakan virus menyerang imun sementara pada lansia daya tahan tubuh sudah cenderung menurun terutama yang memiliki riwayat penyakit penyerta. Beberapa negara bahkan membuat kebijakan melarang lansia beraktivitas di luar rumah. Hal ini termasuk akan berdampak pada berkurangnya jumlah wisatawan senior (lanjut usia).

Customer Fear & Anxiety

Dampak dari krisis COVID-19 masyarakat akan lebih berhati-hati dalam hal ekonomi dan menjaga kesehatan. Di sisi kesehatan, kewaspadaan untuk menjaga jarak meningkat karena ada persepsi bahwa orang lain potensi menularkan virus. Sementara itu di aspek ekonomi, konsumen cenderung mengurangi konsumsi karena adanya pengurangan pendapatan.

NAS Enthusiast

Pandemi COVID-19 akan melahirkan preferensi baru saat berwisata yaitu NAS (Nature-Adventure-Sport). Pandemi membuat orang rentan mengalami stres terlebih pembatasan sosial yang mengharuskan orang beraktivitas di rumah. Perasaan sumpek setelah berbulan-bulan terisolasi membuat orang ingin berwisata ke tempat-tempat yang stress relieve seperti alam, petualangan dan olahraga.

 

III. Customer Megashifts

Light, Agile Operating Model

Kedepannya operasional hotel akan lebih agile dalam menghadapi krisis. Seperti misalnya menggunakan jasa outsource untuk hospitality nya saat musim-musim puncak liburan dan ramai wisatawan. Dengan model operasional seperti ini, beban operasional akan lebih murah sehingga sewaktu-waktu terjadi krisis tidak perlu melakukan lay-off besar-besaran.

Flexibility is King

Sejumlah maskapai dan hotel membuat kebijakan fleksibilitas merubah jadwal menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Pandemi membuat ragu-ragu untuk berpergian ke luar kota karena adanya pembatasan sosial. Seperti misalnya, DKI Jakarta yang membuat kebijakan PSBB jilid II sehingga harus menutup akses transportasi.  

Package Innovation

Menawarkan layanan paket wisata khusus mini grup akan booming di era setelah pandemi. Masyarakat cenderung lebih nyaman pergi dengan orang yang mereka kenal dekat sehingga potensi penularan virus bisa dihindari. Konsep booking tempat wisata akan popular di era next normal.

Apa saja perubahan perilaku konsumen, faktor yang berpengaruh dan bagaimana pemain di industri pariwisata bersiap menghadapi tantangan di era next normal dan untuk win-back di 2021?

Cari tahu lebih lanjut dalam Webinar Tourism Industry Landscape 2021.

Join Webinar

More

Leave a Comment