Seperti kita tahu, awal tahun 2021 ini Clubhouse mengalami sukses awal luar biasa. Puncaknya, bulan Februari 2021 kemarin di-download 9,2 juta pengguna hanya dalam sebulan saja. 

Sukses awal ini rupanya membangunkan “macan tidur”: membuat gurita sosmed Twitter cs gerah. 

Clubhouse nyaris dibeli Twitter seharga $4 miliar tapi urung. Karena tak bisa di-“EAT”, maka jurus brutal kedua pun dikeluarkan: “KILL”. Twitter meluncurkan clone product, Spaces, untuk membunuh sang bayi yang baru lahir. 

Celakanya, langkah Twitter itu diikuti gurita yang lain denga clone product mereka masing-masing: Facebook (Live Audio Room), Spotify (Locker Room), IG, LinkedIn, Telegram, Slack, etc. 

Coba bayangkan: Clubhouse, bayi yg baru lahir dibantai ramai-ramai oleh raksasa-raksasa keji. Apa yang terjadi? GAME OVER. 

Maka betul ungkapan, “Startup vs startup is FAIR GAME. Startup vs tech giants, GAME OVER.” 

Aksi predatori pemain-pemain raksasa ini berakibat fatal. Bulan April kemarin downloads Clubhouse langsung drop 66% dann akan terus-menerus turun. Sudah bisa diprediksi riwayat Clubhouse akan tamat. 

Praktek PREDATORY semacam inilah yg membuat sy gundah begitu membaca merger Gojek-Tokopedia terlaksana minggu lalu (baca: postingan sy sebelumnya: “GoTo & Mimpi Buruk Startup”).  

Saya gundah, jikalau praktek “EAT or KILL” ini setali tiga uang akan dilakukan oleh gurita seperti GoTo dan gurita-gurita lain hasil merger berikutnya (Grab-Shopee???), shg mematikan startup-startup anak bangsa yang mau tumbuh. 

Saya berkeyakinan, ekosistem digital Indonesia akan kuat dan sehat jika diisi oleh ribuan bahkan jutaan startup yang tumbuh di dalam persaingan yang fair. Bukan persaingan predatori seperti yang menimpa Clubhouse. 

Jangan sampai kita mengulang apa yang terjadi di AS dan Cina. Dimana pasar dihegemoni segelintir gurita digital seperti Facebook, Google, Alibaba, Tencent yang kekuasaannya hampir tanpa batas. 

Mereka selalu menggunakan “PREDATORY INSTINCT” untuk lebih menggurita dann meroketkan market cap. 

Market cap adalah tujuan akhir mereka. Bukan Merah Putih atau Keindonesiaan.  

Follow @yuswohady

Comments to: THE FALL OF CLUBHOUSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *