THE NEW NORMAL 100 URBAN LIFE & THE CITY

by inventure knowledge
39 views

NEW NORMAL sudah didepan mata. Kita sudah “keluar dari gua” dan menjalani hidup yang berbeda sama sekali dengan yang kita jalani sebelum pandemi mewabah.

Berikut ini adalah 100 prediksi kami tentang situasi di kenormalan baru dimana akan muncul perilaku baru, kebiasaan baru, gaya hidup baru, budaya baru atau pola pikir baru. Welcome to whole new life: Life after COVID-19

Untuk kali ini kami membahas secara khusus prediksi mengenai Urban Life & The City

 

#7 The End of the City as We Know It

Pandemi adalah “bencana kota”. Kota menjadi episentrum penularan virus, “a death trap”, karena kepadatannya (density) dimana kontak dan interaksi antar orang berlangsung massif. By-nature, pandemi adalah anti-uban. Hidup di kota adalah antitesis social distancing.

Kota menjadi lebih tidak padat (de-densification) karena masyarakat semakin mengarah ke sub-urban, bahkan rural. Thanks to WFH trends. Orang akan cenderung tinggal di pinggiran karena dengan remote working mereka tetap produktif walaupun tidak berada di kantor di pusat-pusat kota.

Format kota akan berubah, jalan akan dibagi secara lebih seimbang dengan memberikan ruang yang lebih besar kepada transportasi ramah lingkungan. Ruang-ruang terbuka publik yang hijau akan semakin banyak dan kota juga semakin didorong melakukan digitalisasi.

 

#8 De-densification, De-urbanization

Asumsi dasar keunggulan kepadatan (density) kota adalah skala ekonomi (economies of scale). Ketika sebuah kota padat dan memiliki jumlah penduduk yang besar maka semua layanan kota menjadi sangat baik dan efisien.

Namun kini manfaat skala ekonomi itu menjadi antitesis ketika padatnya kota menghasilkan handikap mendasar yaitu risiko kesehatan dan kematian yang amat besar oleh adanya wabah.

Karena itu pasca pandemi pemerintah kota dan urban planner akan kian mengarahkan perencanaan kota dengan mengurangi tingkat kepadatannya. Tujuannya jelas, untuk mengantisipasi seranganserangan virus kini dan di masa-masa mendatang.

 

#14 More Localized City

Wabah COVID-19 akan mendorong kota-kota basar (mega city) untuk menjadi “localized”. Maksudnya, di dalam kota yang besar tersebut terdapat “sub-kota” (atau “kota di dalam kota”) yang mandiri.

Tujuannya adalah segala kebutuhan warga kota, mulai dari berbelanja, ke rumah sakit, ke kantor pemerintah, atau berolahraga, bisa dilakukan di dalam sub-kota (intra subcity) tidak perlu keluar (inter sub-city). Dengan begitu mobilitas warga kota akan lebih terlokalisir dan dampak penularan virus bisa lebih dikendalikan sekaligus akan memberikan peranan lebih besar kepada micromobility (cycling dan pedestrian).

 

#15 Private Car Wins (Again)

Ketakutan kepada virus rupanya mengubah secara drastis pola mobilitas dan pilihan moda transportasi masyarakat.

Euforia angkutan massal moderen seperti MRT, LRT, commuter line, dan bussway yang tahun-tahun terakhir happening di Jakarta agaknya mengalami titik balik saat kini pandemi datang. Ya, karena kerumunan di angkutan massal tidak diinginkan demi kepentingan social distancing.

Maka mobil pribadi pun menemukan momentum pertumbuhannya kembali sebagai moda yang paling aman dari terjangan COVID-19.

 

#16 Rise of Cycling & Pedestrian

Saat lockdown dan pembatasan sosial, pemkot kota-kota di dunia telah mendorong warganya untuk menggunakan skuter, sepeda, atau berjalan kaki sebagai solusi sementara untuk memfasilitasi kepentingan social distancing.

Namun seperti telah mereka akui, solusi sementara itu bakal menjadi solusi selamanya. Oleh sebab itu micromobility (skuter, sepeda, skateboard, dll.), moda transportasi yang selama ini dilirik sebelah mata karena moda transportasi didominasi oleh kendaraan pribadi dan angkutan massal, bakal menemukan ruang geraknya.

Konsep “slow street” yaitu penggunaan jalan untuk moda transportasi micromobility seperti sepeda atau skuter dengan kecepatan di bawah 25 km/jam kian populer di seluruh dunia.

 

Ingin tahu pembahasannya?

Join The Webinar

More

Leave a Comment