UKM INDUSTRY OUTLOOK 2021: MORE AGILE, MORE DIGITAL

by inventure knowledge
121 views

UKM adalah sektor yang paling rentan terdampak langsung dari krisis ekonomi COVID-19. Namun, di sisi lain UKM memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh industri-industri yang besar. Kekuatan itu ialah fleksibilitas. Sektor UKM bisa cepat bangkit dan pulih karena UKM bisa lebih fleksibel mengubah roda bisnisnya. Kami mengistilahkan, UKM adalah sektor yang paling mudah untuk melakukan pivoting. Pindah dari bisnis yang fall ke bisnis yang rise. Tidak seperti perusahaan besar yang jika akan merubah arah bisnisnya banyak aspek yang perlu dipikirkan seperti aspek legal, reevaluasi struktur cost dan strategi corporate plan.

Ketangguhan UKM sudah teruji. Bahkan saat melewati Krisis Moneter 1998, UKM justru sektor penyelamat yang dari aspek bisnis paling kuat. Kunci untuk bisa survive di era krisis pandemi ini hanya satu, inovasi. Tidak hanya inovasi produk dan layanan tetapi juga inovasi channel.  Pandemi COVID-19 sangat mendorong akselerasi digital. Artinya bermain di channel digital menjadi nilai yang tidak bisa ditawar lagi oleh UKM.  Menjadi lebih agile dan digital adalah dua key success bagi bisnis UKM untuk bisa segera win-back dari krisis COVID-19.

Kami mengkaji 3 faktor utama yang berpengaruh terhadap bisnis dalam analisis 3C (Changes, Competition, Customer). Ketiga faktor tersebut akan berpengaruh secara silang terhadap perkembangan bisnis UKM di era next normal. Analisis 3C kami definisikan sebagai berikut: Outer Circle Changes, Mid Circle Customer, Inner-Circle Competition. Berikut ini ringkasannya.

#1 Outer Circle: Changes

  • Global + National Recession

Pandemi COVID-19 telah memukul perekonomian seluruh negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Perekonomian Indonesiapun ikut terpuruk, seluruh struktur penopang PDB Indonesia mengalami kontraksi. Mulai dari konsumen rumah tangga sebesar -5,5% hingga konsumsi pemerintah sebesar -6,90%. Kondisi ini, semakin nyata setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan statement resmi melalui media bahwa Indonesia resmi mengalami resesi.

  • Intermittent Social Distancing Policy

Pembatasan sosial skala global maupun nasional telah memberikan tantangan yang berat bagi para pelaku industri UKM. Kebijakan ini membuat para pemain bisnis UKM khususnya yang memiliki toko offline terdampak cukup berat karena konsumen mengurangi aktivitas di luar rumah. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dikatakan membuat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah dan tingkat kunjungan toko offline akan mengalami penurunan yang ekstream sebagai imbas dari adanya kebijakan tersebut.

  • The Fall & The Rise Industry

Di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi dan kebijakan penerapan PSBB selama masa pandemi berakibat pada keterpurukan dan keterjatuhan beberapa industri terutama industri-industri yang serat akan mobilitas dan kerumunan orang. Alhasil para pelaku bisnis dalam industri ini khususnya UKM perlu cepat beradaptasi dan membuat inovasi baru. Mengubah strategi marketing konvensional ke arah yang lebih relevan. Di lain sisi, penetrasi digital yang tinggi berakibat pada tumbuh dan lahirnya industri-industri baru ke arah pemanfaatan teknologi digital, seperti pertumbuhan e-commerce, layanan delivery, dll. Dampaknya, pandemi mendorong para pelaku UKM menjadi lebih berkembang dan modern.

#2 Mid-Circle: Customer

  • Empathic Society

Sisi baiknya, Krisis pandemi COVID-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Rasa senasib dan sepenanggungan melahirkan tujuan bersama  (common goal) untuk melawannya. Tak heran jika rasa empati dan kepedulian berbagai piak terhadap senasib sesama tumbuh luas di Tanah Air dan seluruh dunia. Terlebih di tengah ketikpastian ekonomi dan banyaknya orang yang terkena PHK. Masyarakat berbeondong-bondong secara genuie untuk saling membantu sesama salah satunya dengan mendukung dan mengonsumsi produk UKM.

  • More Local Preference

Pandemi adalah antitesis globalisasi. Perdagangan internasional tersekat sekat kembali. Terlebih di saat pemberlakuan lockdown di berbagai negara mulai diterapkan. Dampaknya rantai pasokan ekonomi dalam skala global mengalami kemandegan. Di satu sisi konsumen pun enggan untuk membeli produk dari luar negeri. Alasannya sederhana pertama keamanan, kedua distribusi produk akan membutuhkan waktu yang lama. Sehingga dengan demikian, konsumen akan cenderung memilih dan mengonsumsi produk lokal. Dengan alasan lebih terjangkau, aman dan saling membantu. Pandemi mampu menggeser preferensi konsumen ke arah lokal. Produk lokal akan mengalami pertumbuhan secara signifikan.

  • Digital Maturity

Pandemi COVID-19 mendorong konsumen segera beradaptasi dengan digital. Sebagai contoh, jika dahulu memesan makan melalui platform hanya dilakukan oleh generasi muda yang lebih digital savvy, kini penetrasi memesan makanan secara online pun juga dapat dilakukan oleh orang tua bahkan kakek nenek. Artinya konsumen semakin mature dalam menyikapi perkembangan digital. Penerapan teknologi digital mampu memberikan kemudahan tersendiri. Konsumen dapat mencari dan membeli produk hanya dengan berselancar di internet, di berbagai e-commerce maupun marketplace yang tersedia tanpa perlu keluar rumah. Keuntungan lainnya, konsumen dapat memiliki referensi yang luas akan suatu produk yang dibutuhkan dan membandingkannya dengan satu sama lain. Alhasil pandemi COVID-19 membuat konsumen lebih siap menghadapi transformasi digital

#3 Inner-Circle: Competition

  • Light & Agile Business Model

Kedepannya para pelaku bisnis UKM akan lebih handal dalam menghadapi krisis di masa mendatang. Sebab, pandemi COVID-19 telah mendorong para pelaku bisnis untuk terus berfikir kreatif dan inovatif agar bisnis dapat berjalan dan melewati masa krisis dengan aman, salah satunya melakukan efisiensi operasional melalui bantuan teknologi digital. Alhasil pandemi mendoronng pelaku bisnis UKM menjadi light & agile dan mampu bertahan di masa-masa krisis.

  • Health & Security Branding

Para pelaku bisnis UKM menjadi salah satu sektor industri yang paling rentan terhadap guncangan pandemi COVID-19. Terlebih di saat social distancing mulai diterapkan. Di masa pandemi, prioritas konsumen adalah keamanan dan kesehatan termasuk dalam hal pelayanan pelanggan. Untuk itu, para pelaku bisnis UKM harus dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan menerapkan konsep healthy dan security. Marketer harus mampu memberikan jaminan keamanan dan kesehatan kepada konsumen melalui penerapan protokol kesehatan yang memadai mulai dari penggunaan masker hingga menerapkan pembayaran secara cashless.

  • Own Retail Branding

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa 31% responden mengaku mengalami peningkatan aktivitas belanja online dengan peningkatan mencapai 42% selama masa pandemi. Rupanya fenomena ini mendorong banyak brand lokal UKM untuk mendirikan website sendiri. Website itu tak hanya menjadi display produk dan sebatas penyampaian informasi melainkan juga berfungsi sebagai e-commerce yang sudah dilengkapi dengan layanan payment. Tentunya fenomena tersebut didasarkan pada tingginya pasar belanja online selama pandemi, sehingga para pelaku bisnis UKM memiliki urgensi untuk segera membangun “retail brand” nya sendiri dan tidak tergantung pada portal e-commerce besar.

UKM Business Landscape in the Next Normal and The Strategy 

More

Leave a Comment